Jumat, 06 Agustus 2021

PERILAKU KONSUMEN PASAR ONLINE

Nama : Riska Ambarruni
Nim : 18010174
1. Pendahuluan
Pada zaman sekarang berbelanja secara online bukanlah hal yang asing. Konsumen tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga saat berbelanja online, cukup dengan melihat website bisa langsung melakukan transaksi pembelian. Proses pembelian online memiliki langkah yang berbeda seperti perilaku pembelian fisik.
Kekhasan dari proses membeli melalui media internet adalah ketika konsumen yang berpotensial menggunakan internet dan mencari-cari informasi yang berkaitan dengan barang atau jasa yang mereka butuhkan. Produsen (pemasar) yang mengerti perilaku konsumennya akan mampu memperkirakan bagaimana kecenderungan konsumen untuk bereaksi terhadap informasi yang diterimanya, sehingga pemasar (produsen) dapat menyusun strategi pemasaran yang sesuai
Oleh karena itu pebisnis online harus memiliki dan melakukan strategi yang tepat agar dapat membuat pengguna internet yang belum melakukan pembelian online tertarik melakukan pembelian secara online serta dapat mempertahankan pelanggan yang telah ia miliki. Strategi yang tepat dapat diciptakan dengan mengetahui terlebih dahulu perilaku pembelian online konsumen.
2. Latar Belakang

Beraktivitas di rumah saja selama pandemi mempengaruhi perilaku konsumen di Indonesia termasuk dalam hal berbelanja, yang menurut data Twitter terdapat 89 persen pengguna mereka yang melakukan pembelian secara online pada kuartal I. adanya perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih belanja dan mendapatkan rekomendasi secara online. Dengan demikian, brand juga harus melakukan penyesuaian terhadap bagaimana mereka berkomunikasi dengan konsumen Internet dan smartphone sudah terbukti telah berhasil menjadi stimulan dalam perubahan perilaku konsumen online era digital. Bagaimana tidak, ketika konsumen masih belum mengenal internet & smartphone, semuanya serba manual. Bukan berarti manual itu jelek. Hanya saja, pada saat itu, produktivitas tidak bisa maksimal.
Sebelum mengenal internet & smartphone, semua aktivitas berbelanja yang dilakukan masih sangat konvensional. Datang ke toko / pasar, menawar harga jika bisa, lalu kembali kerumah. Tetapi, sejak kehadiran internet & smartphone, kita bisa berbelanja ketika berada di kantor, tanpa harus beranjak dari kursi.
Perubahan munculnya konsumen digital Mulai dari website sederhana seperti company profile, hingga aplikasi web base kompleks kini bisa ditemui di internet dalam genggaman. Dengan harga smartphone & akses internet yang semakin terjangkau, terciptalah pasar baru yang masif. Masyarakat online, Netizen adalah kata yang paling populer.Dengan perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, ditambah dengan konsep mobile-first technology 3. Prilaku Konsumen
a.Pengertian
perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
b.Definisi
Perilaku konsumen sendiri sebenarnya adalah faktor – faktor yang menyebabkan konsumen akhirnya memutuskan untuk membeli barang atau menggunakan suatu jasa. Tentunya ada banyak sekali faktor yang mendasari perilaku konsumen ini. Karena seseorang yang berperan sebagai konsumen pasti memiliki alasan tersendiri ketika membeli suatu barang. Dan masing – masing orang tentunya memiliki standar atau patokan yang berbeda.
Perilaku konsumen sendiri sebenarnya adalah faktor – faktor yang menyebabkan konsumen akhirnya memutuskan untuk membeli barang atau menggunakan suatu jasa. Tentunya ada banyak sekali faktor yang mendasari perilaku konsumen ini.Karena seseorang yang berperan sebagai konsumen pasti memiliki alasan tersendiri ketika membeli suatu barang. Dan masing – masing orang tentunya memiliki standar atau patokan yang berbeda.
4. Pasar online

Pasar online atau biasa disebut dengan istilah e-marketplace merupakan tempat dimana ribuan bahkan beberapa di antaranya hingga jutaan pedagang menjajakan barang dagangannya. Bisa diakses oleh siapapun, dari belahan dunia manapun
1. Online Marketplace
Contohnya yaitu seperti Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka yang menyediakan pasar untuk bertemunya para pembeli dan penjual guna bertransaksi di secara online. Untuk di level Internasional ada namanya Amazon dan eBay serta marketplace yang lain. Amazon dinilai sebagai pelopor marketplace dunia mengalahkan Alibaba.
2. Toko Online
Toko online lebih bersifat pasar yang lebih sempit artinya penjual membuat website/blog untuk konsumen membelinya melalui internet. Tetap juga terjadi pertemuan antara pembeli dan penjual di dunia maya. Toko online bisa dicontohkan sebagai bagai seorang blogger yang membuka membuat blog dan menjajakan produknya di dalam blog tersebut.
3. Jejaring Media Sosial
Karena perkembangan internet yang terus terjadi memaksa perusahaan – perusahaan sosial media untuk membuka pasar transaksi belanja daring. Sebut saja Facebook yang sudah membuka menu marketplace bagi user yang mau menjual produknya melalui media sosial. Ada juga sarana yang disediakan secara membayar, dimana para penjual mengiklankan produk barang dan jasanya melalui sosial media.
Perusahaan Google juga melakukan hal yang serupa. Bahkan ada sistem dimana seorang bisa menghasilkan uang dengan mendaftar sebagai publisher Google Adsense.
Definisi
Definisi lain tentang pasar online (daring) adalah suatu sarana atau sebuah toko atau pasar yang berfungsi sebagai tempat para penjual menawarkan barang atau jasa melalui jaringan internet. Barang yang bisa berupa: pakaian, sembako, benda elektronik atau dalam bentuk jasa seperti jasa membuat undangan, jasa membuat desain, atau jasa menyediakan unit mobil untuk disewakan .
Sepertinya, pengertian pasar daring ini akan terus mengalami sebuah perkembangan sesuai dengan adaptasi zaman yang terjadi. Istilah baru selalu ada terjemahannya berdasarkan pendapat para ahli. Uniknya, terkait pasar daring belum ada pernyataan para ahli yang menjabarkannya. Atau tepatnya masih sedikit kajiannya di dunia akademisi. Meski begitu aktivitas dari pasar daring ini sudah tidak terbendung karena pada saat ini telah menjadi bagian dari pada aktivitas umat manusia di dunia sehari-hari.
5. Pengenalan kebutuhan

Pengenalan kebutuhan merupakan langkah awal dalam proses pengambilan keputusan pembelian, dimana konsumen mengenali suatu masalah atau kebutuhannya. Dalam proses pengenalan kebutuhan, pembeli akan menyadari bahwa sesungguhnya terdapat perbedaan antara keadaan nyata (penawaran pasar) dengan keadaan yang diinginkan (kebutuhan atau deman). Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan Pengenalan kebutuhan, Pencarian informasi, Evaluasi alternative. Keputusan pembelian. Perilaku setelah pembelian. Kebutuhan dapat dipicu oleh dorongan internal, yaitu pada saat timbulnya kebutuhan normal seseorang pada tingkatan yang cukup siginifikan untuk mempengaruhi perilakunya. Selain itu kebutuhan juga dapat dipicu oleh dorongan eksternal, misalnya: keluarga atau kelompok referensi, iklan dari pemasar, dan lain-lain. Pada tahap pengenalan kebutuhan, seorang pemasaran harus meneliti konsumen untuk menemukan jenis kebutuhan atau masalah apa yang akan muncul, apa yang memunculkan mereka, dan bagaimana kebutuhan atau masalah tersebut dapat mengarahkan konsumen pada produk tertentu. Dengan mengumpulkan informasi-informasi tersebut, diharapkan orang pemasaran dapat mengenali faktor-faktor yang paling signifikan dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Karena pada umumnya konsumen tidak akan membeli produk jika tidak dapat memuaskan kebutuhannya.
Contohnya : Konsumen sedang membutuhkan peralatan dapur untuk memasak
6. Pencarian informasi konsumen

Merupakan tahap proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen telah tertarik untuk lebih banyak mencari informsi. Seorang konsumen yang telah tertarik mungkin mencari lebih banyak informasi. Jika dorongan konsumen begitu kuatnya dan produk yang memuaskan berada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan besar akan membelinya. Jika tidak konsumen mungkin akan menyimpan kebutuhannya dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi yang berkaitan dengan kebutuhan itu. Jumlah pencarian yang dilakukan oleh konsumen tergantung pada kuatnya dorongan, jumlah informasi yang sudah dimilikinya, kemudahan dalam memperoleh informasi yang lebih banyak, nilai tambah yang diberikan dari setiap informasi tambahan yang baru diperoleh, dan kepuasan yang ia dapatkan dari pencarian informasi yang dilakukan. Konsumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber, meliputi :
a. Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan, dan lain-lain
b. Sumber komersial : iklan,wiraniaga, dealer, kemasan, pajangan, dan lain-lain.
c.Sumber publik : media massa, organisasi, penilai pelanggan, dan lain-lain.
d. Sumber pengalaman : menangani, memeriksa, menggunakan produk, dan lain-lain
Perilaku pembelian online terdiri dari 3 hal, yaitu :
1. Visiting (search) : Calon pembeli mengakses situs e-commerce. Kunjungannya ini dilakukan setelah mengidentifikasi kebutuhan yang ingin dibeli. Namun, ada pula yang hanya sekedar ingin meluangkan waktunya melihat-lihat produk, jasa atau promo yang ditawarkan pihak e-commerce.
2. Purchasing : Setelah seseorang melakukan kunjungan atau pencarian dan menemukan produk atau jasa yang cocok baginya, ia kemudian akan melakukan pembelian. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pembelian seseorang di situs e-commerce. Pertama, seseorang melakukan pembelian karena memang membutuhkan barang atau jasa tersebut. Kedua, seseorang melakukan pembelian karena tertarik dengan promo yang ditawarkan penyedia layanan e-commerce.
3. Multi-channel shopping adalah fitur yang disediakan oleh situs e-commerce dalam bentuk penyediaan berbagai macam jalur atau cara pembelian bagi konsumennya. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan nilai belanja konsumen. Konsumen yang akan membeli bisa membeli produk dengan cara yang disenanginya. Sebagai contoh yaitu pada e-commerce Salestock. Konsumen Salestock bisa melakukan pembelian tidak hanya melalui website, tapi bisa juga melalui aplikasi di Smartphone, Whatsapp, Line, Chat Facebook dan Instagram.
Contoh : Google, website, referensi teman, Instagram, whatsaap
7. Sumber alternatif yang bisa dicari konsumen online

Di jaman sekarang banyak sekali marketplace untuk memudahkan kita berbelanja online, apa itu market place?
Marketplace adalah perantara antara penjual dan pembeli di dunia maya. Situs marketplace bertindak sebagai pihak ketiga dalam transaksi online dengan menyediakan tempat berjualan dan fasilitas pembayaran. Bisa dikatakan marketplace adalah deparment store online. Pada umumnya terdapat dua jenis kerja sama di situs marketplace Indonesia, yaitu marketplace murni dan konsinyasi.
1. Marketplace Murni
Kerjasama marketplace murni adalah ketika situs marketplace hanya menyediakan lapak untuk berjualan dan fasilitas pembayaran. Penjual yang melakukan kerjasama marketplace diberikan keleluasaan lebih banyak dibandingkan kerjasama konsinyasi.
Penjual berkewajiban untuk menyediakan deskripsi dan foto produk secara mandiri. Selain itu, penjual juga dapat menerima penawaran harga dari pembeli. Jadi sebelum melakukan pembayaran, pembeli dapat melakukan penawaran harga kepada penjual. Setelah mendapatkan harga yang disepakati oleh kedua belah pihak, pembeli bisa mengirimkan sejumlah uang ke rekening yang disediakan marketplace.
Contoh marketplace Indonesia yang populer di dengan jenis kerjasama pertama adalah Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, Blanja, dan BliBli. Beberapa contoh marketplace dari luar negeri yang populer di Indonesia adalah Shopee (Singapura), Lazada (Singapura), JD.ID (Tiongkok), Amazon (Amerika Serikat), dan Rakuten (Jepang)
2. Marketplace Konsinyasi
Jenis kerjasama yang kedua adalah konsinyasi atau istilah mudahnya adalah titip barang. Jika penjual melakukan kerjasama konsinyasi dengan situs marketplace, ia hanya perlu menyediakan produk dan detail informasi ke pihak marketplace.
Salah satu contoh marketplace yang menyediakan kerjasama konsinyasi adalah Zalora. Contoh marketplace lain yang menggunakan jenis kerjasama ini adalah Berrybenka.
Pihak situs marketplace akan mengurus penjualan dari foto produk, gudang, pengiriman barang, hingga fasilitas pembayaran. Berbeda dari jenis kerjasama sebelumnya, di jenis kerjasama ini pembeli tidak bisa melakukan penawaran harga karena alur semua alur transaksi ditangani oleh situs marketplace.
Perbedaan mendasarnya terletak pada tanggung jawab penjual dan alur transaksinya. Alur transaksi di marketplace terjadi langsung antara penjual dan pembeli, sedangkan kerjasama konsinyasi semua alur transaksi langsung ditangani situs marketplace.
Selain marketplace, ada juga online shop yang banyak dijual via media sosial seperti instagram, whatsapp, twitter, Facebook dan mempunyai website sendiri

Apa bedanya marketplace dan online shop?
Perbedaan utamanya terletak pada perantara. Marketplace adalah perantara yang menghubungkan para penjual dengan pembeli.
Di sisi lain, online shop atau toko onlinetidak memerlukan perantara. Penjual langsung menjual produknya di platform mandiri kepada pembeli. Jadi tidak ada perantara sama sekali.
Berjualan melalui online shop atau toko online menuntut Anda untuk lebih mandiri. Anda perlu membuat website, mengelola pemasaran melalui media sosial, dan langsung berurusan dengan konsumen.
Walaupun begitu, dengan mengelola website toko online sendiri memiliki keuntungan lebih banyak dibanding hanya berjualan melalui marketplace. Terlebih lagi jika Anda sudah mempunyai merek sendiri.
Beberapa contoh merek yang sukses membangun online shopnya sendiri adalah Bro.do, Erigo Store, Bukupedia, Babyzania, dan Rabbani.
8. Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian online
(sumber google)
• Keterkaitan Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembalian
Kualitas memang yang harus sangat dipentingkan karna kualitas adalah dasar utama agar konsumen online isa repeat order dan mempercayai toko yang dijual
• Kemudahan terhadap keputusan pembelian
Sudah banyak perantara pasar online seperti marketplace dan dibantu pembayaran dengan mudah menggunakan e-banking, ovo, gopay dan alat pembayaran digital lainnya sehingga tidak perlu lagi jalan ke atm untuk membayar invoice setelah berbelanja online
• Kepercayaan dalam keputusan pembelian
Pelaku usaha pasar online bisa menumbuhkan kepercayaan kepada konsumen dengan cara sering sering upload testimoni sehingga konsumen percaya akan kualitas dan kemanan produk
• Keamanan dalam keputusan pembelian
Keamanan jua penting jadi untuk paket biasanya packing nya harus rapi menggunakan buble wrap, sehingga produk tidak mudah hancur dan gunakan jasa pengiriman yang terpercaya
9. Perilaku pasca pembelian konsumen
(sumber google)
Setelah konsumen menerima barang yang merek beli dari marketplace atau online shop, jaman sekarang terkenal denga istilah unboxing, mereka membuka paket yang datang sambil divideokan untuk upload ke sosial media merika atau untuk meretur barang ketika ada yang rusak pada saat pengiriman jadi sebagai bukti
Unboxing juga bisa menjadi salah satu keuntungan untuk para pelakupasar online karna tidak jarang ketika konumen mengupload ke sosial medianya mereka pasti selalu di notice belinya dimana dan biasanya konsumen mentag medsos online shop nya atau bis saja mereka memberikan link marketplace Nah dari sini muncul testimoni dari konsumen, makannya harus sekali memperhatikan kualitas dan kepuasan konsumen untuk meningkatkan jasa marketing gratis lewat konsumen yang sudah beli.
Contohnya : membuat video unboxing dan meriview barang yang dibeli secara online
10. Kelebihan dan kekurangan belanja online
Kelebihan
1. Mudah dijalankan
Dengan berkembangnya dunia internet, saat ini sangat mudah untuk membuka toko online. Cukup dengan membuat akun di media sosial atau berbagai marketplace, toko online sudah dapat dibuka. Siapa saja berkesempatan berjualan online, baik remaja, ibu rumah tangga, bahkan kini banyak anak kecil yang sudah memulai bisnis di dunia maya.
2. Jangkauan pasar lebih luas
Jangkauan dunia internet yang sangat luas tentu saja berpengaruh dengan bisnis online. Jarak antara pemilik toko dan konsumen tidak menjadi penghalang keduanya untuk melakukan transaksi jual beli. Pemasaran toko online tidak hanya terbatas di area lokal saja, bisa lebih luas bahkan hingga nasional maupun internasional..
3. Modal yang diperlukan tidak terlalu besar
Toko online bisa dibentuk hanya dengan bermodalkan ponsel dan kuota internet. Kini ada sistem reseller dan dropship yang akan memudahkan untuk memulai bisnis walaupun tanpa modal. Sistem reseller memudahkan orang yang ingin menjual sesuatu namun belum mampu memproduksi sendiri.
Pelaku reseller akan menyetok barang seperti toko-toko pada umumnya. Namun stok barang untuk reseller online lebih sedikit dan hanya dijadikan sebagai contoh.
Jika beruntung mendapatkan agen yang berada dalam satu daerah, pemilik toko online tidak perlu menyetok sama sekali. Cukup mengambil produk ketika ada konsumen yang telah memesan saja. Selain reseller, ada sistem dropship yang lebih memudahkan lagi.
Pada sistem dropship bahkan tidak perlu menyetok barang dan melakukan pengiriman produk. Seorang dropshipper cukup melakukan kegiatan promosi dan pemasaran saja. Penyediaan dan pengiriman produk nantinya akan ditangani oleh agen pemilik produk.
Sistem ini lebih mudah dan membutuhkan modal yang lebih kecil, namun keuntungan yang didapat juga tidak terlalu besar.
4. Tidak memerlukan tempat
Sebuah toko online tidak memerlukan tempat secara fisik untuk menampung segala jenis produk dan sebagai tempat bertransaksi. Akun media sosial dan toko di berbagai marketplace yang telah dibuat merupakan wadah untuk melakukan proses jual-beli. Toko-toko ini dapat dikontrol dari mana saja. Baik ketika dalam perjalanan maupun sedang berada di rumah.
5. Memerlukan karyawan yang lebih sedikit
Karena sistem yang lebih simpel, pemilik toko online tidak perlu meluangkan banyak waktu dan biaya untuk merekrut karyawan. Penyetokan dan pengiriman barang biasanya dapat dilakukan oleh satu atau dua orang saja.
Namun, jika bisnis online berkembang dengan sangat pesat dan mendapatkan pesanan yang signifikan, Anda bisa mempertimbangkan untuk mempekerjaan beberapa karyawan untuk mempermudah pekerjaan.
6. Waktu fleksibel
Aktivitas di dunia maya berjalan selama 24 jam dalam sehari, begitu dengan toko online. Karena tidak ada batasan jam, maka pemilik toko online tetap bisa melakukan aktivitas jual beli bahkan saat dini hari.
7. Produk yang dijual bervariasi
Ini yang menjadi alasan mengapa banyak konsumen berbondong-bondong belanja secara online. Barang yang disediakan bervariasi. Hal ini juga berlaku pada pemilik toko. Banyak yang lebih memilih berjualan secara online karena bisa menyediakan barang apa saja dan dari agen mana saja selama itu diminati oleh konsumen.
Contohnya : Konsumen hanya mengandalkan HP dan internet sudah bisa berbelanja apa aja yang dia mau dan tidak usah cape cape mencari dan pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan barang tersebut
Kekurangan
1. Persaingan ketat
Kemudahan prosedur pembuatan akun toko serta jangkauan yang sangat luas membuat persaingan pada bisnis online juga cukup ketat. Pemilik toko online tidak hanya bersaing dengan pedagang lokal, tetapi juga internasional.
2. Kredibilitas diragukan
Salah satu yang membuat kepercayaan terhadap toko online rendah adalah karena barang yang dibeli tidak bisa dicoba terlebih dahulu oleh konsumen. Oleh karena itu, pemilik toko harus memastikan seluruh barang yang dijual sudah berkualitas baik ketika dikirim.
Apabila ada produk yang tidak sesuai, pemilik toko harus bertanggung jawab untuk menggantinya. Kekurangan lainnya adalah pemilik toko tidak melayani konsumen secara langsung ditambah dengan banyaknya penipuan di bisnis online yang membuat kredibilitas toko online sering diragukan.
3. Konektivitas internet
Transaksi pada bisnis online berjalan sangat cepat. Konektivitas internet yang buruk walau dalam jangka waktu yang pendek pun akan berdampak besar. Pemilik toko online bisa rugi hingga jutaan rupiah karena konsumen bisa dengan mudah beralih mencari penjual lain yang mampu melayani lebih cepat.
Contoh : Biasanya barang yang dibeli tidak sesuai ekspektasi, ongkos kirim yang mahal, tidak bisa melihat kualitas langsung suatu barang, mempunyai kestabilan koneksi internet yang bagus
11. Trend Konsumen pasar online
(sumber google)
Dengan terus meningkatnya transaksi online ini, pebisnis tentu perlu mengetahui tren perilaku online shoppers di Indonesia agar bisa menjangkau pasar dengan tepat. Berikut beberapa karakteristik belanja online masyarakat Indonesia.
Lebih Sering Belanja Lewat Handphone
Jumlah pengguna internet lewat mobile phone terus meningkat. Menurut data We Are Social, jumlah pengguna aktif internet lewat mobile mencapai 142,8 juta. Makanya tak heran kalau jumlah para online shoppers yang berbelanja lewat handphone semakin tinggi.
Masih dari data yang sama, 79% online shoppers bertransaksi secara online lewat handphone. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding jumlah orang yang berbelanja online lewat desktop. Makanya semakin banyak bisnis yang mengedepankan strategi mobile first dalam menjalankan usahanya.
Kategori Fashion Tetap Paling Diminati
Dalam satu tahun terkahir, kategori produk fashion tetap menjadi kategori produk yang paling diminati oleh online shoppers. Total uang yang dihabiskan untuk belanja produk fashion dalam setahun mencapai $2,3 miliar! Namun kalau dilihat dari pertumbuhannya, kategori produk yang paling meningkat adalah kategori produk makanan dan perawatan pribadi yakni sebesar 30% diikuti kategori produk mainan, hobi, dan DIY sebesar 25%, dan elektronik yaitu sebanyak 24%.
Lebih Suka Pembayaran Elektronik
Seiring dengan meningkatnya jumlah transaksi online, jumlah pembayaran elektronik pun jadi ikut meningkat. Menurut survei We Are Social, 11% dari total populasi berusia 15 tahun ke atas melakukan pembelian atau pembayaran tagihan secara online. Selain itu, sebanyak 3.1% memiliki akun keuangan mobile, dan 2,4% memiliki kartu kredit. Menurut SurveySensum, banyak orang yang juga lebih suka bertransaksi menggunakan e-wallet dikarenakan penggunaannya yang lebih nyaman dan banyaknya promo-promo yang ditawarkan.
Pengalaman Berbelanja Jadi Faktor Penting
Bukan hanya harga yang bisa mempengaruhi faktor seseorang belanja produk dari merk yang satu dan bukan yang lain. Ternyata, faktor pengalaman berbelanja juga jadi kian penting lho. Menurut survei, konsumen akan memutuskan untuk beralih ke kompetitor jika mereka tidak mendapatkan perhatian seperti yang diharapkan.
Sebanyak 67% konsumen mengaku beralih ke merek lain karena mendapat pengalaman yang kurang baik, bukan karena harga atau fitur. Terlebih lagi, konsumen rela mengeluarkan sedikit lebih banyak uang jika itu berarti mereka bisa mendapatkan pengalaman berbelanja dan pelayanan yang memuaskan.
Mengandalkan Chat Commerce
Online shoppers di Indonesia juga ternyata cenderung berkomunikasi dulu lewat chat sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli suatu produk. Menurut riset Facebook and Boston Consulting Group, 91% dari responden akan lebih minat belanja online atau bahkan meningkatkan transaksinya setelah berinteraksi dengan penjual lewat aplikasi messenger atau chat di e-commerce.
Studi lain juga menunjukkan data yang serupa. Studi tersebut mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia akan lebih cenderung membeli produk apabila toko tersebut bisa dihubungi via chat. Lewat chat, calon pembeli jadi bisa tahu informasi lebih lanjut seputar produk sekaligus jadi lebih yakin dan percaya dengan toko tersebut.
Sumber
https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/1771833/lima-perilaku-konsumen-saat-belanja-online
https://www.softwareseni.co.id/blog/perubahan-perilaku-konsumen-online
https://www.google.com/amp/s/www.mantabz.com/pengertian-pasar-daring/
http://annafiryana.blogspot.com/2010/11/pembuatan-keputusan-konsumen.html
https://www.google.com/amp/s/www.niagahoster.co.id/blog/marketplace-adalah/
https://www.sirclo.com/berikut-5-tren-perilaku-online-shoppers-di-indonesia-apa-saja/